• Suryadharma Berencana Beli Pesawat Angkut Jamaah Haji

    0

    Jakarta, jurnalsumatra.com – Mantan Menteri Agama Suryadharma Ali mengaku ingin membeli pesawat terbang Airbus A380 untuk mengangkut jamaah haji Indonesia bila dapat menjabat sebagai Menag lebih lama.
    “Kami juga memiliki rencana untuk membeli pesawat Airbus A380 yang bisa memuat jamaah haji dalam kelas ekonomi sekitar 800 orang. Kalau A380 kita miliki maka jamaah haji yang tinggal di Saudi semula 40 hari rata-rata, diperpendek jadi 30 hari, dan penggunaan A380 jauh lebih ekonomis dibandingn penggunaan pesawat lain,” kata Suryadharma Ali yang membacakan pledoi selama sekitar 20 menit dengan berdiri di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat, Senin.
    Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK menuntut Suryadharma selama 11 tahun penjara dan pidana denda sejumlah Rp750 juta subsidair enam bulan kurungan ditambah pidana uang pengganti sejumlah Rp2,23 miliar karena dinilai terbukti melakukan tindak pidana korupsi pelaksanaan ibadah haji periode 2010-2013.
    Suryadharma mengundurkan diri sebagai menteri pada pertengahan 2014 setelah ditetapkan KPk sebagai tersangka dalam kasus ini pada Mei 2014.
    “Tapi kami memiliki hambatan bandara-bandara di Indnesia belum punya kemampuan didarati pesawat A380 karena lebar landasan tidak sesuai dengan lebar sayap pesawat, karena ini masih memerlukan waktu. Setiap tahun, tidak kurang Rp2,5-3 triliun Kemenag membeli tiket dari Garuda dan Saudi Arabia Airlines untuk pembelian tiket yang besar alangkah lebih ekonomis itu dibelikan A380,” ungkap Suryadharma.
    Selain membeli pesawat, Suryadharma juga mengakui ada tiga program lain yang belum tercapai hingga ia tidak lagi menjabat.
    “Ada tiga program direncakana tapi belum tercapai yaitu pertama pembangunan pemondokan jamaah haji Indonesia di Mekkah. Dua pengusahan nasional sudah siap untuk membangun pemondokan di sana dan tidak perlu satu rupiah pun dari APBN maupun BPIH (Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji), ini belum terlaksana,” tambah Suryadharma.
    Sedangkan program ketiga adalah pembangunan 150 masjid per tahun di Indonesia yang berasal dari Dana Abadi Umat (DAU).
    “Program ketiga yang belum dapat dilaksanakan adalah pembangunan 150 masjid per tahun dengan mempergunakan Dana Abadi Umat tapi kami tidak mempergunakan pokoknya tapi hasilnya. Ada Rp2,7 triliun, dengan hasil manfaat 6 persen dari Rp2,7 triliun adalah dapat Rp162 miliar. Dari jumlah itu kalau dibangun untuk pembangunan masjid, rata-rata Rp1 miliar per masjid yang bisa dibangun 150-160 masjid per tahun,” ungkap Suryadharma.
    Hal-hal tersebut menurut Suryadharma menunjukkan niatnya untuk bekerja dengan baik dan bukan melakukan perbuatan korupsi.
    “Saya sampaikan semua ini tidak lain untuk menunjukkan itikad saya untuk bekerja sebaik-baiknya bukan melakukan tindakan-tindakan yang tidak terpuji seperti korupsi yang pada hari ini diadili,” jelas Suryadharma.
    Ia pun menegaskan apa yang ia lakukan semata-mata adalah bentuk ibadahnya kepada Tuham Yang Maha Esa.
    “Apa yang saya lakukan untuk penyelenggaraan haji Indonesia adalah semata-mata pengabdian bagi bangsa dan negara. Dari sisi agama adalah ini adalah ibadah saya, penghambaan saya kepada Allah SWT, tidak terbersit sedikitpun mencari keuntungan pribadi dan keluarga, saya sangat bersyukur diberikan tugas sangat mulia. Pemberian kesempatan kepada jamaah haji untuk menggunakan kuota sisa jamaah haji nasional adalah berdasarkan perspektif ibadah bukan proyek untuk menghasilkan keuntungan saya pribadi, kolega, keluarga, PPP atau siapapun,” tegas Suryadharma.
    Dalam perkara ini, Suryadharma didakwa melakukan sejumlah perbuatan yaitu menunjuk orang-orang tertentu yang tidak memenuhi persyaratan menjadi Petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi dan mengangkat Petugas Pendamping Amirul Hajj tidak sesuai ketentuan, menggunakan Dana Operasional Menteri (DOM) tidak sesuai dengan peruntukan, mengarahkan tim penyewaan Perumahan Jemaah Haji Indonesia di Arab Saudi untuk menunjuk penyedia perubamah jamaah Indonesia tidak sesuai ketentuan serta memanfaatkan sisa kuota haji nasional tidak berdasarkan prinsip keadilan dan proporsionalitas.
    Atas perbuatan ini Suryadharma mendapat keuntungan untuk diri sendir sejumlah Rp2,23 miliar dan memperoleh hadiah 1 lembar potongan kain ka’bah (kiswah) serta merugikan keuangan negara sejumlah Rp27,283 miliar dan 17,967 juta riyal (sekitar Rp53,9 miliar) atau setidak-tidaknya sejumlah tersebut sebagaimana laporan perhitungan kerugian Negara dari Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com