• Stain Integrasikan Falsafah Hidup Orang Madura

    0

    Pamekasan, jurnalsumatra.com – Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan, Jawa Timur mengintegrasikan pendidikan moral dan falsafah hidup Orang Madura sebagai wujud kebijakan lokal guna mempertahankan nilai-nilai budaya Madura di lembaga perguruan tinggi itu.
    “Ada empat hal yang menjadi prinsip hidup dan falsafah hidup Orang Madura yang selama ini selalu menjadi pendidikan moral dan menjadi karakter Orang Madura yang kita integrasi di STAIN Pamekasan,” kata Wakil Ketua II STAIN Pamekasan Achmad Muhlis, M.Ag kepada Antara di Pamekasan, Rabu.
    Ia menjelaskan keempat prinsip hidup orang Madura itu, pertama, “Angho’ potea mata e tembhan pote tolang” artinya, lebih baik putih mata daripada putih tulang.
    Makna falsafah hidup orang Madura ini, menunjukkan pentingnya hidup bernilai, dan berguna bagi masyarakat sesama, dan menjaga perasaan orang lain.
    Falsafah hidup orang Madura yang kedua ialah “asapo’ angin abhantal ombhak, apajung sajadah” artinya berselimut angin, berbantal ombak dan berpayung sajadah.
    Falsafah hidup ini, kata Muhlis menunjukkan bahwa orang Madura sebenarnya gigih dalam berusaha berjiwa enterpreneurship namun tetap berpegang teguh pada ajaran agama.
    Falfasafah ketiga adalah “bapak, babhuk, guru, rato” artinya bapak, ibu, guru dan raja atau pemerintah,” terang Muhlis.
    Ia menjelaskan, falsafah hidup yang ketiga ini, menunjukkan bahwa orang Madura selalu menghormati orang yang lebih tua, guru dan para pemimpinnya.
    Sedangkan falsafah hidup orang Madura yang keempat ialah “ngecok tengka, lanjhang tobhet” artinya selalu berupaya mendahului berbuat baik kepada sesama dan bertaubat.
    Menurut Muhlis, pihak STAIN telah menyampaikan gagasan integrasi falsafah hidup orang Madura dalam materi pendidikan di kampus Islam negeri tersebut ke Kementerian Agama RI.
    “Dan berkat adanya kebijakan lokal itulah maka pihak Kementerian Agama akhirnya menyetujui usulan status STAIN menjadi Institute Islam Negeri (IIN),” katanya.
    Wakil Ketua II STAIN Achmad Muhlis lebih lanjut menjelaskan, dengan mengintegrasikan falsafah hidup orang Madura pada sistem pendidikan di kampus itu, maka STAIN nantinya akan menjadi lembaga pendidikan sebagai pusat studi ke-Islam-an sekaligus budaya Madura.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com