• Segketa Lahan Desa Bukit Sejahtera Ngambang

    0
    Segketa Lahan Desa Bukit Sejahtera Ngambang

    Segketa Lahan Desa Bukit Sejahtera Ngambang

    Muba, jurnalsumatra.com – Sengketa lahan sebanyak 73 hektar kebun karet milik Farida Binti Arsad (56) warga Sungai Lilin Kecanatan Sungai Lilin terletak di desa Bukit Sejahtera kec. Batang Hari Leko, yang dulunya lahan tersebut adalah kebun karet, sekarang diduga dikuasai oleh beberapa oknum bernama Ambar, Edi, Manan dan Tamrin, masing masing tinggal di Desa Bukit Sejahtera Kecamatan Batang Hari Leko Kab Musi banyuasin, saat ini lahan seluas 73 hektar sudah ditanami sawit bahkan sudah produksi, sedangkan belum ada ganti rugi kepada pemilik lahan, akibatnya pemilik (Farida) dirugikan milyaran rupiah, bahkan kasusu tersebut masih ngambang.

    Sementara Pemegang kuasa Azwan Holik warga Desa Tanah Abang Kecamatan Batang Hari Leko untuk mengurus permasalahan yang sedang dialami oleh Farida, tertanggal 12 November tahun 2015, sedangkan proses penyelesaiannya masih ngambang bahkan pihak Awan sudah beberapa kali kelapangan dengan beberapa petugas dari pihak kecamatan batang hari Leko, namun belum ada titik temu, Kepala desa Bukit Sejahtera, Bastari saat Tim dari kecamatan datang kelokasih beberapa waktu lalu Bastari tidak ada ditempat, menurut stafnya kepala desa sedang tidak ada ditempat, padahal menurut Azwan sehari sebelumnya mereka sudah menjadwalkan kalau tim akan datang, namun disayangkan kepala desa bastri tidak ada ditempat, bahkan terkesan menghindar.

    Menurut Kepala desa Bukit Sejahtera Bastari pada jurnalsumatra.com melalui ponselnya mengatakan, “kalau pihaknya sudah mengetetahui hal itu, namun sejauh ini dia belum tauh persisinya lahan yang dipersengketakan itu, sebagai kepala desa tetap kita jembatanni naum kita akan pe;ajari lagi sejauh mana batas-batan yang dimasalahkan tersebut, ungkapnya

    Sementara Camat Batang hari Leko Iswandi atas prihal lahan 73 hektar yang dikuasai oleh bebrapa oknum tersebut diruang kerjanya mengatakan, Kalau proses itu sebenarnya dia baru mengetahuinya, namun dia menyrankan agar semua pihak baik yang menguasai lahan maupun yang pemilik lahan harus didampingi oleh kepala desa untuk duduk bersama guna mengetahui kebenarannya sehingga dapat tengahi.

    “saya yakin dengan duduk bersama persoalan apapun bisa dimuasyawarahkan dan mudah mudahan akan ketemu titik terangnya , kita harus pakai terlebih dahulu adat yang biasa dipakai yaitu musyawarah”. Ungkapnya (tok)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com