• Ratusan pedagang pasar makan malam bersama Bupati

    0

    Baturaja, jurnalsumatra.com – Ratusan orang pedagang di pasar tradisional Kota Baturaja dijamu oleh penjabat Bupati Ogan Komering Ulu Sumatera Selatan makan malam bersama.

    Para pedagang di Pasar Atas dan Pasar Baru itu diundang makan bersama di rumah dinas Bupati Ogan Komering Ulu (OKU) Maulan Aklil, Minggu malam (10/1).

    Warga yang diundang itu terdiri atas pedagang penghuni kios/petak, pedagang kaki lima (PKL) dan pedagang yang biasa berjualan di malam hari.

    Undangan makan malam bersama bupati dan para pejabat di lingkungan Pemkab OKU itu, terkait rencana penertiban keberadaan mereka di kedua pasar yang berlokasi persis di tengah kota setempat.

    Rencana penertiban itu, terkait dengan kondisi jalan-jalan utama di sekitar pasar semrawut dan menimbulkan kemacetan arus lalu lintas kendaraan cukup parah terutama saat jam sibuk, kata Dirut PD Pasar OKU, Zamzam.

    Menurut dia, para pedagang Pasar Baru dan Pasar Atas sebanyak 1.500 orang, dan dari jumlah itu ada sekitar 300 lebih pedagang pendatang.

    Ia mengatakan, penertiban para pedagang itu dilakukan sebelum Pilkada serentak 9 Desember 2015, dan sampai sekarang terus berlanjut sampai kawasan pasar tersebut benar-benar tertib.

    “Banyak berdampak dengan kondisi pasar yang semrawut, selain mengganggu pengguna jalan, juga pedagang akan kesulitan kalau memang kondisi pasar tidak tertata dengan baik,” ungkapnya.

    Oleh karenanya, bersama instansi terkait melakukan sosialisasi terhadap pedagang agar kiranya tidak berjualan di daerah terlarang, tetapi menempati petak atau los yang sudah ada, supaya kondisi pasar betul-betul tertib.

    Sementara, pada pertemuan dan acara makan malam tersebut, berturut-turut pedagang yang dari awal menyimpan keluh kesahnya memberanikan diri untuk tampil ke muka.

    “Maaf pak bupati saya bicara apa adanya karena saya hanya seorang pedagang. Kalau ada salah-salah kata mohon dimaklumi,” ujar Pahlevi disambut tawa rekan-rekannya pedagang yang lain.

    Sementara, bupati menanggapinya menyatakan tidak masalah. Sampaikan saja apa yang menjadi masalah selama ini.

    Pedagang itu meminta pemerintah setemat berlaku adil bila akan menertibkan pedagang. Jangan ada tebang pilih saat pemindahan pedagang yang berjualan di pinggir jalan untuk menempati kios-kios kosong.

    Sebab selama ini, kata Pahlevi, bila terjadi penertiban, ada oknum aparat Satpol PP memberikan perlakuan khusus kepada pedagang yang dianggap masih famili mereka.

    “Kalau begini, penertiban tidak akan berlangsung lama. Soalnya beberapa minggu kemudian para pedagang yang berjualan di atas akan kembali turun ke pinggir jalan,” tuturnya.

    Pedagang ikan tersebut juga meminta bupati untuk memperhatikan nasib mereka, seperti adanya penjualan petak di pasar kisaran antara Rp9 juta hingga Rp15 juta per unit, mereka diberi kemudahan untuk mencicilnya dengan tenggang waktu cukup lama.

    Sementara, Rani, pedagang kaki lima (PKL) yang mewakili ibu-ibu pedagang Pasar Baru juga berkeluh kesa.

    Menurut dia, bila PKL mau ditertibkan, pemerintah memberikan solusi agar mereka bisa tetap beraktivitas.

    “Kalau kami ini pedagang kaki lima mau diteribkan tanpa diberikan lokasi, bagaimana kami mau mencari uang beras, bagaimana kami mau menyekolahkan anak-anak. Saya minta kepada pak bupati agar nasib kami diperhatikan,” keluhnya.

    Menanggapi keluhan pedagang yang buka-bukaan di hadapan para pejabatnya tersebut, bupati mengatakan, semua yang sudah didengarnya dicatat khusus untuk ditindaklanjuti.

    Saat itu juga setelah acara ditutup, bupati mengumpulkan pejabat terkait yang hadir dan duduk satu meja untuk mencari solusi terbaik untuk kelangsungan hidup dan kesejahteraan para pedagang itu sendiri.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com