• Petani Magetan Keluhkan Stroberi Rusak Akibat Hujan

    0

         Magetan, jurnalsumatra.com – Sejumlah petani stroberi di Lereng Gunung Lawu, Desa Dadi Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur mengeluhkan tingginya curah hujan dalam sepekan terakhir hingga membuat buah stroberi miliknya rusak.
    “Cuaca yang cenderung banyak hujan membuat tanaman stroberi milik petani rusak. Akibatnya, banyak petani yang rugi karena tidak dapat memanen buah stroberi mereka dengan baik,” ujar petani stroberi di kawasan setempat, Watik, kepada wartawan, Sabtu.
    Menurut dia, akibat curah hujan yang tinggi, buah stroberi menjadi pecah-pecah, kecil, dan banyak yang membusuk. Selain itu, rasa buahnya juga tidak semanis saat cuaca panas yang cukup mendapat sinar matahari.
    Meski merugi karena buah stroberi dipanen tidak maksimal, namun pihaknya tetap bertahan. Hal itu karena prospek usahanya cukup menguntungkan.
    Setiap hari masih ada wisatawan yang datang ke kebunnya untuk menikmati kegiatan agrowisata dengan memetik buah stroberi sendiri. Jumlah wisatawan yang berkunjung semakin banyak saat akhir pekan tiba.
    Dalam sepekan, ia biasanya memanen buah stroberi sebanyak tiga kali, dengan hasil sekali panen rata-rata sekitar 10 kilogram.
    “Jika tidak sedang dipetik oleh pembeli, buahnya bisa untuk esok hari. Selain itu, saya juga memetiknya untuk dijual langsung. Terkadang ada juga pembeli yang minta langsung dibungkus tanpa memetiknya sendiri,” ucap Watik.
    Dengan hasil panen sebanyak itu, rata-rata per hari, ia bisa menjual 10 hingga 15 kilogram buah stroberi. Jumlah itu meningkat jika bertepatan dengan akhir pekan, yakni mencapai 20 hingga 25 kilogram.
    Harga buah stroberi petik sendiri berkisar antara Rp30.000,00 hingga Rp40.000,00 per kilogram, tergantung dari besar dan kecilnya buah. Hargannya memang lebih tinggi, sebab buah yang dipetik adalah buah pilihan pembeli sendiri dan bonus mencicipi langsung dari pohon sepuasnya.
    “Kalau beli langsung dari yang sudah disediakan oleh penjual, harganya mencapai Rp10.000 per pak plastik. Tapi biasanya pengunjung suka yang memetik sendiri sesuai selera,” ungkap Parti, petani stroberi lainnya di kawasan setempat.
    Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Magetan, Siran menyatakan, pembudidayaan tanaman stroberi di lereng Gunung Lawu merupakan kegiatan agrowisata untuk mendukung pariwisata di Kabupaten Magetan, terlebih di kawasan Telaga Sarangan.
    “Kami bekerja sama dengan Dinas Pertanian dalam mengurusi hal ini. Bagian agrobisnisnya merupakan binaan Dinas Pertanian setempat, sedangkan koordinasi wisatanya adalah binaan kami,” tutur Siran.
    Kegiatan tersebut semuanya bertujuan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kabupaten Magetan dan menyejahterkan petani stroberi.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com