• Pakar: Hasil Penilaian Guru Belum Sinkron

    0

        Makassar, jurnalsumatra.com – Spesialis Pengembangan Sekolah USAID PRIORITAS Sulsel Fadiah Mahmud mengatakan, hasil penilaian guru dengan menggunakan UKG (Uji Kompetensi Guru) dan PKG (Penilaian Kinerja Guru) selama ini belum sinkron.
    “Nilai UKG yang ujiannya dilaksanakan baik ‘online’ maupun ‘offline’ secara nasional memperlihatkan kompetensi guru sangat rendah,” kata Fadiah di Makassar, Sabtu.
    Dari hasil survei diketahui, nilai UKG guru pada 2014 menunjukkan rata-rata nilai kompetensi guru cuma 47 dari nilai maksimal 100 atau berada dibawah angka 50.
    Namun, nilai ini berbanding terbalik dan tidak sinkron dengan nilai PKG pada tahun yang sama, yaitu baik dan amat baik.
    “Padahal seharusnya kedua setara. Kalau nilai UKGnya tidak baik, pastilah nilai PKGnya juga demikian, karena kinerja guru mencerminkan kompetensi guru,” ujar Fadiah.
    Dia mengatakan, salah satu sebab hasil Penilaian Kinerja Guru ini selalu baik dan amat baik karena penilaian yang dilakukan oleh kepala sekolah tidak berdasarkan fakta-fakta di kelas berdasarkan indikator-indikator yang telah ditetapkan pemerintah, lebih banyak berdasarkan asumsi.
    Menurut dia, penilaian kinerja guru kadang-kadang diserahkan  kepala sekolah ke operator sekolah. Jadi menilainya tanpa melihat kinerja guru di kelas, kasih skor dan langsung input ke komputer.Padahal penilaian kinerja guru sangat penting.
    ¿Hasil Penilaian Kinerja Guru sebenarnya bukan sebagai bahan untuk peningkatan golongan, tetapi untuk peningkatan mutu pembelajaran di kelas. Dengan penilaian tersebut bisa diketahui kelemahan guru, baik di metode mengajar, penguasaan materi dan pengelolaan kelas,¿ ujarnya.
    Apabila kepala sekolah tidak menguasi cara menilai gurunya, maka yang jadi korban sebenarnya adalah anak didik, karena metode mengajar guru tidak pernah mendapatkan evaluasi apakah berhasil membuat anak menyerap pembelajaran dengan efektif atau tidak.
    Hasil Uji Kompetensi Kepala Sekolah (UKKS) secara nasional tahun 2014 yang dikeluarkan oleh Kemendikbud pertengahan 2015 menunjukkan dimensi  yang paling rendah  terletak pada nilai supervisi yaitu 36,45.
    “Hal ini secara gamblang memperlihatkan supervisi mereka dalam bentuk penilaian kinerja guru juga lemah,” ujar Fadiah.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com