• Lebak Kembangkan Metode Hazton Dongkrak Produktivitas Pangan

    0

         Lebak, jurnalsumatra.com – Pemerintah Kabupaten Lebak, Banten, mengembangkan metode hazton pada tanaman padi guna mendongkrak produktivitas pangan sehingga dapat meningkatkan pendapatan ekonomi petani.
    “Kita optimistis penerapan metode hazton bisa menjadikan Lebak sebagai daerah lumbung pangan nasional,” kata Kepala Bidang Penyuluh Badan Pelaksana Penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Kabupaten Lebak, Wismaryoto saat dihubungi di Lebak, Selasa.
    Pengembangan metode hazton sudah dilakukan di Kelompok Tani Suka Bungah, Kecamatan Bojongleles, Kabupaten Lebak dan berhasil dengan produktivitas rata-rata 8,5 ton gabah kering pungut (GKP) per hektare.
    Keberhasilan penerapan metode hazton itu maka cocok dikembangkan di Kabupaten Lebak dalam upaya meningkatkan produksi dan produktivitas pangan.
    Selain itu juga untuk meningkatkan pendapatan ekonomi petani sehingga kehidupan mereka menjadi lebih baik dan sejahtera.
    Untuk mempersiapkan pengembangan metode hazton, kata dia, seluruh penyuluh mengikuti bintek tematik secara bertahap agar pengetahuan mereka meningkat.
    “Kami minta tenaga penyuluh nantinya bisa mentransferkan ilmunya kepada petani untuk penerapan metode hazton itu,” katanya.
    Menurut dia, kelebihan metode hazton yakni menanam satu rumpun dengan induknya dan tidak beranak tangkai lagi, sehingga buah biji padi cukup banyak.
    Kelebihan lainnya, ujar dia, bisa mengatasi hama serangan keong emas, terlebih wilayah Lebak rawan hama keong emas.
    Selain itu juga penerapan metode hazton bisa mengurangi biaya “ngoyos” atau perawatan tanaman padi yang semestinya lima sampai enam kali.
    Namun, metode hazton hanya dua kali perawatan tanaman padi hingga panen.
    Karena itu, pihaknya tahun 2016 seluruh petani di Kabupaten Lebak menerapkan metode hazton.
    “Kami yakin metode hazton dapat mendongkrak produksi pangan sehingga terealisasi swasembada beras,” katanya.
    Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Lebak Dede Supriatna mengatakan selama ini masyarakat di daerah ini berjumlah 1,2 juta jiwa tidak mendatangkan beras impor.
    Sebab, pasokan beras lokal melimpah di sejumlah pasar tradisional.
    Bahkan, kebijakan pemerintah daerah akan difokuskan peningkatan produktivitas gabah, tidak gagal panen dan pompanisasi guna menggenjot produksi pangan di daerah itu.
    “Kami optimistis tahun 2016 produktivitas padi mencapai 8,5 ton GKP per hektare dengan berbagai teknik budidaya, seperti metode hazton,” katanya menjelaskan.
    Ketua Kelompok Tani Suka Bungah, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, Ruhyana mengatakan petani di sini kini mengembangkan metode hazton kedua kali.
    Sebab, pengembangan metode hazton tahap pertama dinilai berhasil hingga produktivitas gabah kering mencapai 8,5 ton/hektare.
    Karena itu, pada musim tanam pertama 2016 tetap menerapkan metode hazton karena cukup menguntungkan pendapatan ekonomi petani.
    “Dengan produksi 8,5 ton GKP diperkirakan kami mendapat keuntungan sekitar Rp25 juta per hektare,” kata Ruhyana saat ditemui dikediamannya di Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com