• Kotawaringin Timur Usulkan Status Siaga Banjir Diperpanjang

    0

    Sampit, Kateng, jurnalsumatra.com- Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, mengusulkan status siaga bencana darurat banjir diperpanjang karena curah hujan masih tinggi dan banjir masih berpotensi terjadi.
    “Sesuai surat keputusan bupati, status siaga bencana darurat banjir diusulkan mulai 15 Desember 2015-13 Maret 2016, namun pemerintah pusat menyetujui 15 Desember 2015-28 Januari 2016 dan berakhir hari ini. Makanya kita usulkan lagi status siaga diperpanjang hingga 13 Maret,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kotawaringin Timur, Sutoyo di Sampit, Kamis.
    Hasil rapat lintas sektor pada 26 Januari lalu, diputuskan bahwa Kotawaringin Timur status kewaspadaan tetap siaga bencana darurat banjir. Curah hujan di sejumlah wilayah seperti Bukit Santuai, Kuala Kuayan, Kotabesi dan Mentaya Hilir Selatan masih tinggi sehingga berpotensi memicu banjir.
    “Secara umum, banjir di kawasan Utara, Selatan dan kota, disebabkan curah hujan tinggi bersamaan dengan air sungai yang sedang pasang sehingga air sulit turun ke sungai.
    Seperti di Samuda kemarin, tapi itu biasanya tidak lama karena hanya satu sampai tiga jam,” jelas Sutoyo.
    Hasil evaluasi tim, penyebab banjir di kawasan Utara atau hulu adalah menyempitnya sungai kecil karena tidak terawat. Ini terjadi karena jalan darat sudah bagus sehingga sungai tidak lagi menjadi pilihan utama bagi masyarakat dalam bertransportasi dan aktivitas lainnya.
    Sungai kecil juga banyak yang dangkal akibat penambangan liar. Sementara itu, pohon di bantaran sungai berkurang sehingga tanah terus tergerus dan menyebabkan sungai mendangkal.
    Dampak paling besar adalah berkurangnya hutan sebagai salah satu dampak hadirnya perusahaan besar seperti oerkebunan kelapa sawit, sehingga daerah serapan air berkurang. Akibatnya sungai dengan mudah meluap saat hujan deras berlangsung lama.
    “Parit dan irigasi yang dibuat perusahaan sawit umumnya berukuran besar dan langsung ke sungai. Jumlahnya sangat jauh lebih besar dibanding sungai kecil kita sehingga sempat banjir menumpuk sebelum air sampai ke sungai Mentaya. Dampaknya permukiman di sekitar banjir,” kata Sutoyo.
    Sementara itu, banjir di kawasan kota Sampit diperkirakan dipicu rendahnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah, material bangunan seperti pasir dan tanah yang menutupi parit, jaringan kabel membentang di parit sehingga membuat sampah menumpuk dan air tidak mengalir lancar.
    Sutoyo mengimbau masyarakat turut peduli mencegah terjadinya banjir. BPBD terus berkoordinasi dengan intansi terkait lainnya untuk pencegahan dan penanggulangan bencana banjir.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com