• Kejari Lahat Masih Miliki Kasus Korupsi

    0

    Lahat, jurnalsumatra.com – Setidaknya masih terindikasi menyisakan dua perkara kasus korupsi yang masih menjadi pekerjaan rumah (PR) Kejaksaan Negeri (Kejari) Lahat.

    Kedua PR itu, kasus dugaan korupsi pada proyek sistem menegemant kepegawaian (Simpeg) Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Lahat, di tahun 2010 melalui dana Anggaran Pendapatan Belanja Daereh (APBD) tingkat II Lahat. Akibat dari proyek tersebut, Negara dirugikan mencapai 400 juta lebih, berdasarkan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi.

    Lalu, kasus dugaan korupsi proyek peningkatan saluran irigasi Desa Pelajaran, Kecamatan Jarai, Kabupaten Lahat. Hasil dari pengerjaan proyek itu, Negara dirugikan hingga mencapai 800 juta, menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tingkat I Provinsi Sumatera Serlatan tahun 2013, semuanya masih menyisakan pekerjaan PR ditahun 2016.

    Faktanya, Plt Kajari Lahat, Rahmat, SH, MH didampingi Kasi Pidana khusus, Rifqi Ari Alpha, SH, MH saat dikonfirmasi terkait penanganan kedua perkara tersebut mengaku, bahwa untuk kasus Simpeg BKD masih menunggu hasil penjilidan menuju tahap 2 atau kelengkapan berkas (P21). Sedangkan untuk kasus proyek pengairan Desa Pelajaran, pun masih dalam perburuan atau pemanggilan tersangka (SF) yang meruoakan kontraktornya.

    “Kalau yang kontraktor Simpeg, atas nama tersangka Heri Sulistiono. Itu sudah kita tanya ke pihak Pidsus. Kalau memang sudah selesai pemberkasannya, silahkan untuk melakukan tahap duanya. Mudah mudahan dalam waktu dekat tahap 2 akan segera terlaksana,” tutur Rahmat, dijumpai jurnalsumatra.comRabu (6/1) diruang kerjanya.

    Sementara, Kasi Pidsus Kejari Lahat Rifqi SH dikonfirmasi, tak menapik. Bahkan, kata mantak Kasi Intelijen Bagan Siapi-api ini, untuk penanganan kasus proyek pengairan Desa Pelajaran tersebut, pihaknya terus melakukan pemanggilan dan perburuan terhadap tersangka SF selaku kontraktornya.

    ”Kita sudah beberapa kali memanggil tersangka SF, bahkan kita sudah pernah memburu kerumahnya. Namun tersagka selalu tidak ada ditempat,” tegas Rifqi.

    Akan tetapi, sambungnya, untuk 2 tersangka lain terkait kasus Simpeg BKD atas nama PW dan AI, itu sudah ditahan dan memasuki tahap sidang tuntutan di pengadilan negeri Tipikor Sumsel di Palembang.

    ”Bukan hanya TSK kasus Simpeg saja, termasuk tersangka lain pada kasus pengairan Desa Pelajaran, tersangka Robert selaku PPTK dinas PU pengairan Provinsi Sumatera Selatan. Itu juga sudah kita tahan dan saat ini sudah memasuki masa persidangan dengan tuntutan,” ungkap Rifqi.

    Namun, ketika disinggung wartawan soal dugaan keterkaitan satu tersangka lain, atas nama HS, selaku pejabat pengguna anggaran (PA) proyek Simpeg BKD Lahat yang menandatangani kontrak kerja bersama direktur CV. Murva Heri Sulistiono selaku kontraktornya. Baik Rahmat maupun Rifqi, memilih bungkam alias enggan memberikan keterangan lebih detail.

    ”Saya selaku Plt yang ditunjuk oleh Kajati Sumsel, belum dapat menjelaskan tentang hal itu. Sebab saya baru beberapa hari ini masuk, dan hanya pelaksana tugas saja,” kilah Rahmat.

    Mirisnya, dilapangan sendiri sampai saat ini, kasus proyek pengairan Desa Pelajaran, maupun kasus proyek Simpek BKD Lahat tersebut, mulai digarap sejak tahun 2013 dan 2014 silam. Namun hingga memasuki awal tahun 2016 ini, kasus tersebut belum tuntas. Termasuk, mantan kepala BKD Lahat, HS itu, sampai sekarang tidak ada tanda tanda keterlibatannya dalam kasus Simpeg tersebut. (Din)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com