• Harimau Sumatra Hanya Lima Belas Ekor

    0
    harimau-sumatera

    harimau-sumatera

    Palembang, jurnalsumatra.com – Terancamnya kelangsungan hidup sejumlah satwa liar dan dilindungi seperti Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan keanekaragaman hayati menjadi perhatian penting. Kepala BKSDA Sumsel Nunu Anugrah mengatakan, pemerintah Sumsel bersama mitra organisasi seperti ZSL, IDH, SNV, FPP dan AP memastikan perlindungan untuk spesies yang hampir punah.

    “Seperti Harimau Sumatera saat ini hanya tinggal 15 ekor saja yakni 8 ekor di Taman Nasional (TN) Sembilang dan 7 ekor di kawasan Hutan Dangku Musi Banyuasin. Hutan rawa gambut merupakan habitat penting untuk 15 % dari Harimau Sumatera,”ujarnya disela pertemuan pembukaan proyek kemitraan pengelolaan lanskap ekoregion di kawasan Hutan Dangku Muba dan TN Sembilang Banyuasin, di Ballroom Aryaduta Palembang, Kamis (28/1).

    Nunu mengatakan, kawasan hutan Dangku ini memang merupakan fungsi suaka. Namun, karena adanya kebakaran lahan beberapa waktu lalu dan maraknya aksi parambahan hasil hutan membuat habitatnya terganggu. “Untuk itu, ada pokja perambahan dan penegakan hukum saat ini,”imbuhnya.

    Sementara itu, Kepala TN Sembilang Suhaimin menuturkan, koridor jalan lintas harimau yang juga merupakan daerah jelajah harimau ada di TN Sembilang. Tercatat ada sebanyak 8 ekor harimau Sumatera saat ini di daerah tersebut. Sejauh ini sudah mulai tumbuh lagi aneka flora di kawasan tersebut karena penghujan. “namun kita tetap upayakan restorasi,”tukasnya. Suhaimin menambahkan, lewat program itu jug diharapkan satwa termonitor baik dan ada peningkatan populasi naik 10 %.

    Sementara itu, Staf Ahli Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim Gubernur Sumsel Najib Asmani mengatakan, berangkat dari peristiwa kebakaran hutan di asia tenggara, maka proyek konservasi 5 tahunan dirancang secara berkelanjutan dengan pengamanan tingkat bentang lahan untuk lahan gambut dan habitat pesisir di Sumsel. Hal itu sudah diumumkan pada Global Lanscape Folum (GLF) di Paris. Dia menjelaskan, sekaligus pada Climate Summit COP 21 PBB, Gubernur Sumsel Alex Noerdin berencana membuat kemitraan ekoregion sumsel yang akan didukung proyek lansekap terintegrasi dan didukung organisasi konservasi internasional Zoological Society of London.

    Najib Aspani menjelaskan Sumsel mensosialisasikan pengelolaan lansekap yang sekarang dikelola bersama-sama. “Program ini kita launching di Jerman oleh Pak gub Maret 2015. Desember Pak gub Launching di Paris. Satu-satunya gub yang melaunching,” jelas Najib Aspani pada jurnalsumatra.com.

    “Kemitraan fokus pada masalah defortasi, hilangnya lahan gambut, kebakaran, dan dampak perubahan iklim yang terkait di bentang lahan Sembilang-Dangku Sumsel- hutan rawa gambut yang merupakan habitat penting untuk 15% Harimau Sumatera. Mengunakan perangkat seperti halnya Sustainable Palm Oil Transparency Toolkit (SPOTT) dari ZSL, yang bertujuan untuk memastikan pengelola daerah hutan yang kolaboratif seperti lahan gambut dan sistem pertanian. Pada akhirnya menghubungkan keseluruhan bentangan untuk mendukung keselamatan hewan yang hampir punah,”jelasnya.

    Direktur Country Manager ZSL Indonesia Programme, Hadrianus Andjar Rafiastanto, Country Manager ZSL Indonesia Programme menyatakan konsorsium pengelolaan lansekap ke depan bisa menghilangkan kebakaran hutan (Karhut).

    “Konsorsium tidak bekerja sendiri. Konsorsium ini membantu secara teknis apa yang diperlukan Pemrov Sumsel. Minimal kebakaran hutan akan berkurang. Ke depan akan hilang sama sekali. Pembangunan hijau.

    Dengan emisi rendah, Ini konsep kita membantu Pemprov Sumsel menuju target yang lebih bagus. Lingkungan secara bersama-sama. Dipasang 80 kamera untuk memonitor populasi harimau,” ungkap Andjar pada pertemuan pembukaan proyek kemitraan pengelolaan lansekap/ekoregion Sumsel terpadu berkelanjutan dengan tema restorasi lansekap di kawasan hutan Dangku Muba dan Taman Nasional Sembilang Banyuasin, di

    Andjar mengaku, tatara lapangan pihaknya memonitoring berbagai species yang hampir punah terutama Harimau Sumatera. Di kawasan Hutan Dangku pihakny memasang 32 kamera untuk memonitor satwa. “Kemudian di area konsesi lainnya ada 72 kamera, TN Sembilang sebanyak 80 kamera untuk 40 titik, “ujar Andjar. Hutan Indonesia jadi perhatian dunia seperti soal kebakaran hutan yang luas dan menghasilkan asap tahun 2015 lalu.

    Sementara Regina Ariyanti dari Bappeda Sumsel mengatakan alasan kenapa ekoregion karena basicnya ekosistem. Selama ini masing-masing bekerja sendiri. Sekarang ini titik awal pelaku apa yang akan dilakukan.

    Berangkat dari peristiwa hutan yang tercatat di Asia Tenggara, proyek konservasi 5 tahun yang dirancang untuk mencapai keberlanjutan, pengamanan tingkat bentang lahan untuk lahan gambut dan habitat pesisir di Sumsel yang mana telah diumumkan pada Global Landscape Folum (GLF) di Paris.

    Berbicara di acara peluncuran GLF, sekaligus pada acara climate summit COP21 PBB, Gubernur Sumsel Ir H Alex Noerdin SH mengumumkan rencana untuk membuat kemitraan Ekoregion Sumsel. Dimana akan didukung dengan proyek lansekap terintegrasi yang didukung oleh organisasi internasional zoological society of London (yuyun)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com