• DPRD Semarang: Kewaspadaan RT/RW Harus Ditingkatkan

    0

    Semarang, jurnalsumatra.com – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang mengingatkan masyarakat, terutama ketua RT dan RW untuk lebih meningkatkan kewaspadaan masuknya ajaran terlarang maupun terorisme.
    “Mengenai masuknya ajaran Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), kami menilai bukan kecolongan. Namun, kita yang harus lebih meningkatkan kewaspadaan,” kata Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi di Semarang, Senin.
    Hal itu diungkapkan politikus PDI Perjuangan itu usai memimpin Rapat Paripurna Istimewa DPRD Kota Semarang yang mengagendakan pengumuman hasil penetapan pasangan calon wali kota dan wakil wali kota.
    Supriyadi menyatakan DPRD sebagai bagian dari elemen masyarakat mengikuti terhadap keputusan pemerintah mengenai organisasi kemasyarakatan (ormas) yang dinyatakan dilarang, termasuk Gafatar.
    Maka dari itu, ia mengimbau masyarakat untuk meningkatkan upaya peningkatan atau antisipasi melalui peran ketua RT dan RW di setiap wilayah yang menjadi bagian penting dari entitas sosial masyarakat.
    “Ketua RT dan RW harus lebih waspada terhadap orang asing yang masuk atau tinggal sementara di wilayahnya, misalnya mengontrak rumah atau indekost terkait gerakan radikalisme atau ormas terlarang,” katanya.
    Menurut dia, selama ini upaya penanggulangan baru dilakukan ketika paham radikalisme maupun ormas terlarang sudah telanjur masuk di masyarakat, padahal semestinya harus dilakukan upaya antisipasi.
    Salah satu upaya yang dilakukan, kata dia, penempelan stiker bahwa tamu yang akan bermalam minimal 1×24 jam harus melaporkan kepada ketua RT dan RW setempat yang aturannya harus ditaati oleh masyarakat.
    “Ya, ketua RT dan RW yang harus semakin berhati-hati dan waspada terhadap warga baru yang bermaksud mengontrak rumah atau indekost di wilayahnya. Ini merupakan salah satu upaya antisipatif,” tegasnya.
    Sebagaimana diwartakan, Gafatar menjadi sorotan setelah maraknya pemberitaan mengenai menghilangnya warga dari berbagai daerah yang disinyalir direkrut menjadi anggota organisasi kemasyarakatan (ormas) itu.
    Beberapa mantan anggota Gafatar akhirnya dipulangkan ke daerahnya masing-masing, seperti 359 warga dari Jateng, DIY, dan Jabar yang selama ini berada di Kalimantan Barat selama bergabung dengan Gafatar.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com