• Dispertan Siap Cetak Sawah Baru 104 Hektare

    0

    Kulon Progo, jurnalsumatra.com – Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten  Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, siap mencetak sawah baru seluas 104 hektare dengan syarat pemerintah provinsi atau pusat memberikan anggaran  pembanguan infrastruktur irigasi.
    Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertan) Kulon Progo Bambang Tri Budi di Kulon Progo, Kamis, mengatakan potensi cetak sawah baru rencananya di Desa Sidomulyo seluas 50 hektare dan Desa Donomulyo 54 hektare.
    “Potensi cetak sawah baru masih dapat bertambah lebih dari 104 hektare, tapi terkendala infrastrutrur jaringan irigasi,” kata Bambang.
    Ia mengatakan Dispertan telah  mengidentifikasi potensi cetak sawah baru dan telah menyusun Survei Investigasi Desain (SID) lahan. Berdasarkan identifikasi dan SID, cetak sawah di Sidomulyo seluas 50 hektare membutuhkan infrastruktur jaringan irigasi yang biayanya Rp6 miliar.
    “Kalau hitung-hitungan investasi, cetak sawah seluas 50 hektare dengan biaya Rp6 miliar, akan kembali modal dalam satu tahun. Misalnya satu kali panen menghasilkan 500 ton dan harga gabah kering giling Rp4.000 per kg, maka sekitar Rp2 miliar setiap kali panen,” katanya.
    Selain di Sidomulyo, lanjut Bambang, potensi cetak sawah baru di Desa Donomulyo, Kecamatan Nanggulan seluas 54 hektare. Namun, membutuhkan infrastruktur irigasi 300 meter. Irigasi nantinya akan dibuat Talang di Pedukuhan Lengkong dan air yang ditalang berasal dari Kalibawang, serta jaringan irigasi sepanjang dua kilometer. Anggaran yang dibutuhkan sebesar Rp45 miliar.
    “Informasinya, Kementerian Pertanian (Kempatan) siap memberikan bantuan anggaran cetak sawah baru sebesar Rp100 miliar. Namun, hingga saat ini kami belum mendapat kepastian,” katanya.
    Ketua Komisi II DPRD Kulon Progo Muhtarom Asrori mengatakan infrastruktur penunjang yang dibutuhkan dengan cetak sawah baru ntara lain berupa saluran irigasi, jalan usaha tani serta infrastruktur lain yang dibutuhkan.
    “Kalau tidak segera ada pemgangunan infrastruktur penunjang, dikhawatirkan sawah tersebut akan kurang produktif atau malah tidak dapat berfungsi seperti yang diharapkan,” kata Muhtarom.
    Menurut dia, infrastruktur di lokasi sawah baru masih relatif terbatas, meski sudah ditanami padi, Saluran irigasi terlalu kecil dan belum menjangkau seluruh areal sawah. Selain itu belum tersedia jalan yang memadai untuk mengangkut hasil pertanian saat panen.
    Ia mengatakan hal yang juga perlu ditindaklanjuti, di beberapa lokasi sawah baru ada yang tanahnya bercampur batu. Kalau menunggu pelapukan batu secara alami akan membutuhkan waktu yang cukup lama.
    “Lebih baik bila lahan tersebut diambilkan tanah dari tempat lain agar bisa segera difungsikan,” kata Muhtarom.(anjas)

     

     

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com