• DISHUB Surabaya Berlakukan Simpang Baru Jemur Handayani

    0

    Surabaya, jurnalsumatra.com- Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya akan memberlakukan simpang baru di Jalan Jemur Handayani I (sisi timur “frontage road”) untuk mengurai kemacetan di Jalan Ahmad Yani.
    Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Surabaya Irvan Wahyu Drajat, di Surabaya, Kamis, mengatakan pemberlakukan simpang baru itu merupakan rekayasa lalu lintas yang dilakukan Dishub untuk mengatasi kemacetan di Bundaran Dolog.
    “Kami mengamati masih banyak kendaraan yang crossing dari ‘frontage road’ sisi timur di Jalan Jemur Ngawinan melalui rel kereta api ke Bundaran Dolog sehingga terjadi ‘bottle neck’ (jalan menyempit),” katanya.
    Menurut dia, kecenderungan pengendara ini menjadi salah satu penyebab kemacetan, karena itulah Dishub Surabaya dalam waktu dekat akan menyesuaikan simpang baru di Jalan Jemur Handayani I.
    Nantinya, lanjut dia, pengendara dari Jalan Jemur Ngawinan yang hendak menuju ke utara, ke tengah kota, melalui Bundaran Dolog, tidak bisa langsung melintas ke rel kereta api.
    “Harus berputar dulu melalui simpang baru ini,” katanya.
    Hingga kini, “frontage road” sisi barat Jalan Ahmad Yani memang masih belum tuntas dalam hal pembebasan lahan, sehingga Dishub belum sepenuhnya membuka jalan itu, karena menunggu pembebasan lahan oleh Dinas PU Bina Marga.
    Akibatnya, beban jalan Ahmad Yani pada jam-jam padat kendaraan belum bisa terurai. Kepadatan akan terjadi ketika pengendara menumpuk di depan Kantor Depot Logistik (Dolog) atau seputar Taman Pelangi.
    Untuk mengantisipasi hal ini, Dishub Surabaya akan memberlakukan simpang baru di Jalan Jemur Handayani I (sisi timur frontage road). Ini untuk mengurai kendaraan yang melintasi rel kereta api Dolog yang relatif sempit.
    Sementara untuk “frontage road” sebelah barat, Wahyu mengatakan, Dishub harus menunggu penyelesaian fisik oleh Dinas PU Bina Marga untuk penerapan rekayasa lalu lintas.
    “Otomatis, semua rekayasa lalu lintas, baik rambu, markah, dan papan informasi penunjuk jalan harus menunggu bangunan fisik selesai. Minimal sampai Injoko,” katanya.
    Meski demikian, Wahyu mengatakan rekayasa lalu lintas sebenarnya sudah dilakukan sebagian. Bersama Kepolisian dan Satpol PP, Dishub mengatur jalur mana yang bisa dibuka dan ditutup.
    Selain itu, Pemkot Surabaya juga berencana membangun trem dan monorail dalam beberapa tahun ke depan, sehingga infrastruktur baru itu juga akan menjadi salah satu solusi mengatasi kemacetan Kota Pahlawan.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com