• Aceh Barat-Jepang Kerja Sama Mitigasi Bencana

    0

    Meulaboh, Aceh, jurnalsumatra.com – Pemerintah Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh membangun kerja sama dengan Jepang dalam upaya meningkatkan mitigasi bencana di daerah tersebut.
    Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Aceh Barat H T Ahmad Dadek di Meulaboh, Rabu mengatakan bahwa gempa bumi dan tsunami 2004 tidak cukup kuat menjadikan masyarakat siaga dan menjadikan bencana bagian dari karakter dan budaya.
    “Karenanya kami meminta kepada Jepang untuk memberikan dukungan penuh dalam peningkatan mitigasi bencana di Aceh Barat. Tahap pertama akan dibuatkan proposal yang akan diajukan kepada JICA,”katanya.
    Pernyataan tersebut disampaikan di sela-sela pertemuan di aula Bappeda dengan dua orang peneliti asal Negara Jepang yang berkunjung ke Aceh Barat dalam rencana membangun kerjasama mitigasi bencana yakni Prof Suzuki Tamojo yang merupakan sekretaris umum Enginer Without Border Jepang dan Prof Masaru Arakida selaku senior Asian Disaster Reduction Center.
    Ahmad Dadek menjelaskan, setelah agenda pertemuan kedua belah pihak tersebut akan dilanjutkan pula dengan pembuatan proposal oleh kedua orang peneliti asal Jepang ini untuk diajukan kepada JICA.
    Sementara itu Prof Masaru Arakida dalam pertemuan tersebut menyampaikan, sebagai seorang tenaga ahli kebencanaan, dirinya merasa perlu memberikan pengetahuan kepada masyarakat di kawasan itu.
    Menurut dia, metode mitigasi bencana yang dilakukan di Jepang saat ini sudah tidak lagi perlu teori dan presentasi, tetapi paling baik diimplementasikan lewat permainan seperti teka trik dan lain sebagainya.
    “Metode Jepang juga bukan yang terbaik sebab setiap masyarakat memiliki cara dan metode sendiri untuk meningkatkan mitigasi bencana,”sebutnya.
    Senada juga diutarakan Prof Suzuki, menurut dia perlu keterlibatan masyarakat secara budaya dan sadar untuk meningkatkan mitigasi, dengan demikian masyarakat terbiasa dan lebih siap menghadapi bencana.
    Ia menjelaskan, orang Jepang masih bisa tenang menghadapi bencana karena dasar watak penuh disiplin sejak dari kecil dan itu merupakan hasil dari budaya dalam jangka waktu panjang dan hasil pendidikan.
    Menyangkut koordinasi dulunya di Jepang sangat bergantung kepada prosedur tetap (protap), namun protap hanya banyak diketahui oleh yang memegang komando sementara pemain lapangan kurang paham.
    Karena itu menurut Prof Suzuki, yang lebih penting kondisi sekarang untuk memperkuat mitigasi bencana adalah latihan dan simulasi yang harus selalu dievaluasi dan kurikulum digunakan Jepang bisa diterapkan di Indonesia secara luas dengan cara On Job Training.
    “Anak-anak sekolah di Jepang banyak yang selamat karena ada Tendeko masing masing lari ke tempat tinggi, tidak boleh tinggal di rumah, tidak usah khawatir tentang orang tua dan ini perlu diaplikasi di sekolah Aceh,”jelasnya.
    Acara wira hop tersebut dibuka Wakil Bupati Aceh Barat Rachmad Fitri HD, diikuti 100 orang dari berbagai unsur pejabat dan masyarakat, menurut wabub, kerjasama Aceh Barat-Jepang ini sangat penting untuk memperkuat masyarakatnya dalam menghadapi bencana di masa mendatang.
    “Kami mengharapkan agar masyarakat meningkatkan kesiapan siagaan dalam menghadapi bencana dengan tujuan untuk meminimalkan kerugian dan risiko jika bencana terjadi,”katanya menambahkan.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com