•  Penduduk Miskin Di Banten Berkurang 11.730 Orang

    0

    Serang, jurnalsumatra.com – Jumlah penduduk miskin di Provinsi Banten hingga September 2015 berkurang sekitar 11.730 orang dibandingkan data Maret 2015, dari 702.400 orang menjadi 690.670 orang.
    Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Banten Syech Suhaimi di Serang, Rabu, mengatakan penurunan jumlah penduduk miskin sebesar 1,67 persen itu karena adanya penurunan penduduk miskin di daerah perdesaan sekitar 22.160 orang, meski di daerah perkotaan bertambah sekitar 10.420 orang.
    Ia menjelaskan faktor penyebab menurunnya jumlah penduduk miskin antara lain laju pertumbuhan ekonomi yang positif pada triwulan-III/2015 sebesar 2,03 persen, sementara pertumbuhan ekonomi pada triwulan-I/2015 negatif 0,65 persen.
    Penyebab lainnya inflasi umum Maret-September 2015 sebesar 3,55 persen masih lebih rendah dibandingkan inflasi umum September 2014-Maret 2015 (4,43 persen), kata Suhaimi seraya menambahkan pada September 2015 terjadi deflasi sebesar 0,08 persen.
    Selang periode Maret 2011 sampai Maret 2015, jumlah penduduk miskin di Provinsi Banten cukup berfluktuasi. Pada September 2013, jumlah penduduk miskin mengalami kenaikan tertinggi sebesar 3,86 persen dibandingkan Maret 2013.
    Suhaimi mengatakan hal tersebut disebabkan inflasi umum yang relatif tinggi akibat kenaikan harga BBM pada bulan Juli 2013. Namun, pada Maret 2014 jumlah penduduk miskin mengalami penurunan yang cukup besar, yaitu dari sebesar 677.510 jiwa pada September 2013 menjadi 622.840 jiwa.
    Ia menambahkan setelah turun pada Maret 2013, angka kemiskinan Banten terus meningkat di periode-periode selanjutnya. Pada September 2014 penduduk miskin di Provinsi Banten mengalami kenaikan sebesar 4,23 persen. Peningkatan penduduk miskin kembali terjadi pada Maret 2015 yaitu bertambah sebesar 53.210 jiwa. Pada periode pengamatan yaitu September 2015, jumlah penduduk miskin di Banten berkurang sebesar 11.730 jiwa atau sekitar 1,67 persen.
    Suhaimi mengatakan persentase penduduk miskin di daerah perkotaan tidak mengalami perubahan yang nyata apabila dibandingkan dengan keadaan Maret 2015. Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada Maret 2015 sebesar 5,03 persen berubah menjadi 5,11 persen pada September 2015.
    Sementara itu,  persentase kemiskinan di perdesaan mengalami penurunan sekitar 0,6 poin yaitu berkurang dari 7,78 persen pada Maret 2015 menjadi 7,12 persen pada September 2015.
    Peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Pada September 2015, sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan tercatat sebesar 70,29 persen, tidak berbeda jauh dengan kondisi Maret 2015 yang sebesar 70,47 persen.
    Komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan di perkotaan relatif sama dengan di perdesaan, diantaranya adalah beras, rokok kretek filter, telur ayam ras dan mie instan.
    “Begitu pula halnya dengan lima komoditi bukan makanan yang memberikan sumbangan terbesar terhadap Garis Kemiskinan di perkotaan dan perdesaan yang relatif sama, diantaranya adalah perumahan, bensin, listrik, dan pendidikan,” katanya.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com